Izza009 05.33

Jakarta – Tak ada yang bisa menghentikan tekad H Ahmad Djuwaini untuk mengikuti Aksi Bela Islam III Jumat 2 Desember di Lapangan Monumen Nasional (Monas). Bersama anak dan menantunya, sambil duduk di atas kursi roda, ia terus memekikan takbir agar hukum penista agama ditegakkan. “Saya baru-baru ini, kurang dari seminggu ini, dirawat empat hari sampai masuk ICU. Tapi panggilan jihad ini membuat saya datang walau harus naik kursi roda,” kata H Ahmad Djuwaeni yang kini berusia 82 tahun kepasa Islamic News Agency (INA), Jumat, 02 Desember 2016.
Penyakit jantung yang menggerogotinya empat tahun terakhir tak menyurutkan langkahnya untuk ikut langsung membela Al-Quran ketika dinista.
“Ini adalah panggilan jiwa, saya terharu melihat bagaimana umat Islam bersatu sebanyak ini,” katanya kepada jaringan berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU) ini sambil menangis.
Firmansyah, menantu Ahmad Djuwaeni yang terus mendorong kursi roda H Ahmad menegaskan bahwa ayah mertuanya sangat semangat dan mengajak anak-anaknya untuk aksi.
“Sampai beliau sendiri yang meminta kami, padahal secara logika beliau baru saja keluar dari rumah sakit, kami sempat khawatir, tapi tekad beliau begitu kuat,” ungkap menantunya.
H. Ahmad Djuwaeni berpesan kepada umat agar terus menyuarakan keadilan.
“Dalam kondisi seperti ini, harapan saya tetap keadilan ditegakkan, ini panggilan jiwa kita semua, momen kebersamaan yang harus terus di jaga,” pungkasnya.[]

source

Izza009 04.04
Tersebar BC diberbagai media social yang menyatakan bahwa peserta aksi super damai yang diselenggarakan pada tanggal 2 desember tadi melampaui jumlah perkiraan GNPF-MUI. Dalam BC tersebut dikabarkan jumlah peserta tembus sampai 7 juta peserta.

berikut isi dari BC tersebut:
MasyaAllah....!😮😮
Tak jadi pun 5 juta..

7 juta lebih ternyata 💖💖u

AMAZING

* yang kemaren mau ketawa aja katanya , karena gak mungkin
*awas keselek cin..*

*Sebarluaskan* 👇🏻
JUMLAH PESERTA AKSI DAMAI 212 :  7,434,757
UPDATE PADA: 12/2/16 1:02 AM
(MOHON: Cek, Klarifikasi, Tambahin, kurangin dengan data yang lebih akurat) 
sumber: berbagai media

 120  Aceh (2 Bus)
 100  Aceh tamiang  (Kapal Laut)
 4,000  Aceh lainnya (Kapal Laut)
 6,000,000  Adzikra
 6,300  Agam & Bukittinggi (bus)
 660  Arek Lacor Pamekasan
 2,500  Balikpapan (10 pesawat)
 ??  Bandung (Konvoi motor)
 200  BANDUNG (Masjid Salman) (bUS)
 1,000  Banten (Jalan Kaki)
 1,200  Batam
 6,000  Bekasi (100 bus)
 1,500  Bekasi (KRL)
 2,000  Bekasi (Muhammadiyah)
 30,000  Bogor Raya (Jalan Kaki ikuti ciamis)
 1,305  Bukit Tinggi (??)
 100,000  Ciamis - tasik (Jalan kaki + Catatan Polisi)
 10,000  Ciamis (Bus)
 40  Cianjur - Persis (Jalan Kaki)
 120  Deli Serdang (2 bus)
 35,000  Depok Raya (gabung dg ciamis)
 1,500  Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) (25 Bus)
 5,000  Jakarta Forum Syuhada Indonesia --
 4,708  Jateng (Bus dll) (Laporan Kapolda Jateng)
 ??  Jatim (Konvoi Motor)
 60  Karawang (1 bus-Kusus FPI)
 250  Kebumen (Bus+Kendaraan Pribadi)
 1,000  Lampung (??)
 24  Laskar Singa Aceh dari kabupaten Bireun (3 avanza)
 90  Lombok (Pesawat)
 600  Makassar, Palembang, Palu dan Medan,
 18,000  Malang (300 Bus)
 25,000  Malangbong - Garut (jalan kaki gabung dg Ciamis)
 6,300  Minang
 5,000  Padang (berangkat sendiri)
 8,800  Padang (dikoordinir GNPF-MUI) (Bus)
 840  Pantura Pamerkasan
 400  Payakumbuh (2 pesawat)
 700  Pontianak (Pesawat)
 300  Riau (5 Bus)
 50  Riau (Pasukan Khusus FPI)
 5,000  Riau (Muhammadiyah)
 ??  Samarinda & Palu
 120  Sampang
 250  Semarang palu kuisFUIS) (Kereta Api)
 180  Sidoarjo (Konvoi, Mob Pribadi dll)
 2,640  Solo (44 Bus)
 3,000  Sukabumi Kabupaten (??)
 18,000  Sumbar (300 bus)
 10,000  Sumsel (??)
 15,000  Surabaya  (Bus)
 300  Surabaya  Masjid Al Akbar (5 Bus)
 2,000  Tangerang Selatan
 2,400  Tasik Malaya (40 Bus)
 1,900  Yogyakarta (Bus)
 500  Yogyakarta (Pesawat)

 ORMAS / OR dll 
 420  Yogyakarta Muhammadiyah (7 Bus)
 1,000,000  MUHAMMADIYAH (berbagai daerah lainnya)
 10,000  HMI
 4,000  BEM (200 org)
 15,000  GPII se Indonesia
 1,000  Persatuan Islam (Persis)
 50,000  Buruh

 RELAWAN KESEHATAN 
 30   Bandung

 RELAWAN KEBERSIHAN 
 2,000   Santri Persis
 ??  Gerakan Ibu Negeri (GIN)
 10,000  BANDUNG DT (Daarut Taauhid) (bUS)

 PESERTA LUAR NEGERI & NON MUSLIM 
 300  Selangor Kuala Lumpur (Pesawat)
 50  Tionghoa Non Muslim

 7,434,757   JUMLAH SEMENTARA melampaui dari
 3,000,000   ESTIMASI WAKET GNPF-MUI
 200,000   ESTIMASI polisi

 Keajaiban 
 1. Bayangan Tugu Monas mengarah tepat ke arah kiblat 
 2. Makanan Melimpah ruah 
 3. Pemprof memberi support akomodasi 
 4. Fasilitas nyaman bagi perserta Non-Muslim 
 5. Pejalan Kaki dari ciamis melihat awan berlafadz Allah 
 6. dari Masjid AT Tin Awan putih bertuliskan lafadz Allah dan di sambut guratan cahaya pelangi di sore hari 
 7. Insha Allah cuaca seperti Lailatul Qodar 
 8. Komnasham buka posko pengaduan 
 9. Forum Komunikasi BEM Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia MENOLAK rencana aksi 212 
 10. segala cara pengecut dilakukan untuk menghalangi datangnya umat Islam 

 Pengawalan  
 Polisi 27.000 Personel 
 Polisi Asmaul Husna 499 Personel 
 Klaim Pengamanan Banser 5000 anggota 
 Marinir tidak sebut jumlah 

 Catatan: 
 Jika diberitakan ribuan, diangkakan 1.000 
 Estimasi 1 bus 60 penumpang

Semoga Allah melindungi, dan semoga data ini dapat membantu.

Allahu A'lam

Izza009 03.52
Tukang Ketoprak gratiskan dagangannya



Kondisi gerimis itu tak menyurutkan langkah para mujahid. Mereka tetap duduk tenang di sajadahnya. Tak ada tanda-tanda mau meninggalkan tempat. Mereka tetap khusyuk mendengarkan khotbah Habib Rizieq Syihab. Terlihat beberapa jamaah menggunakan payung ataupun jas hujan. Tetapi mayoritas mereka tak mengenakan payung ataupun jas hujan.
Guyuran rintik hujan itu seakan ikut membasahi jiwa mereka yang merindukan kebenaran. Seakan ingin meluruhkan seluruh kesombongan diri. Guyuran kesegaran yang membasahi jiwa-jiwa mujahid sejati.

Seller Sari Roti gratiska dagangannya
Di antara para jamaah itu terlihat seorang penjual minuman instan hangat. Aroma kopi dan teh yang nikmat begitu menggoda. Aroma yang paling dirindukan di tengah rintik hujan. Beberapa jamaah pun terlihat ingin mencari sedikit kehangatan dengan segelas kopi. Tapi ternyata penjual tersebut menggratiskan seluruh dagangannya! Masya Allah….

Begitu banyak kisah indah yang terjalin dalam aksi 212. Kisah keikhlasan yang begitu menyentuh jiwa. Tentang seorang penjual bakso yang menggratiskan dagangannya, tentang penjual roti yang menyedekahkan dagangannya, atau tentang penjual minuman hangat yang menggratiskan dagangannya.

Mereka semua melakukan itu dengan penuh keikhlasan, tak mengharap imbalan dati siapapun juga. Mereka hanya ingin berkhidmat bagi ummat. Ingin memuliakan para pejuang agama.

Sungguh ukhuwah itu begitu indah. Enggan rasanya melepaskan hari2 yang penuh dengan ukhuwah ini.

Izza009 00.51
Presiden Filipina Rodrigo Duterte tak berhenti mencak-mencak dan menyebut Presiden Amerika Barack Obama sebagai (-maaf) ’anak pelacur.’ Mantan Mayor yang berkuasa di Davao City selama 22 tahun itu melontarkan umpatan dalam jumpa pers sebelum bertolak ke Vientiane, Laos, 5 September 2016.
Duterte tak kuasa menahan jengkel mengingat Obama mengirim sinyal akan menanyakan perihal kematian 2.400 orang di Mindanao dalam dua bulan terakhir.
”Anda seharusnya lebih memberi hormat. Tidak begitu saja melemparkan pertanyaan dan pertanyaan. ANAK PELACUR! Saya akan ganti mengutuk Anda di forum itu,” koar Duterte yang rencananya menghadiri KTT Asean di Laos itu.
Suksesor Benigno Aquino III itu juga melontarkan permisalan kotor bahwa perdebatan seperti itu tak ada manfaatnya bagi kedua belah pihak. Duterte seolah mengelak untuk bertanggung jawab dengan dugaan pelanggaran HAM dan ketidak mampuan menjaga stabilitas keamanan di Filipina Selatan.
”Kita akan selamanya berkubang di lumpur kotor seperti babi jika Anda (Obama) melakukan itu kepada saya,” tantang Duterte.
Akibat umpatan itu, Obama yang sejak lama memberi bantuan kepada Filipina dalam upaya melawan mujahidin di Mindanao pun geram. Pria berkulit gelap itu membatalkan agenda ketemu Duterte yang rencananya akan dilakukan disela-sela gelaran KTT Asean.
”Presiden Obama tidak akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Duterte dari Filipina sore ini, ungkap Jubir Dewan Keamanan Nasional Amerika, Ned Price pagi ini, 6 September 2016.
Obama bahkan sudah mengubah agendanya untuk bertemu dengan Presiden Republik Korea Park Geun Hye.



Izza009 06.34

KETIKA DOSEN MELIHAT KAKI SANTRI CIAMIS BERDARAH-DARAH


Setiap melewati permukiman, ribuan santri Ciamis disambut dengan penuh cinta. Ada rasa bangga pada anak-anak muda yang menempuh ratusan Kilometer demi Kalam SuciNya, ada pula rasa haru berpadu air mata.

Salah satu fragmen cinta itu terkisah apik saat seorang dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) melihat kaki salah seorang santri berdarah.

Ini kisahnya seperti dituturkan sendiri oleh Dosen Unpad

Maimon Herawati

Saat Hati Berdetak karena Hal yang Sama


Usai mengajar kelas pagi, saya turun ke Jatos. Dengan Isna, kami memilih sandal gunung dan sepatu nyaman pakai. Seluruh sandal dan sepatu ukuran 39-42 kami beli. Teteh penjaga toko menelpon pemilik toko, minta harga sangat murah dibanding harga yang tertulis di sandal gunung itu.

Gembolan besar itu dengan cukup sulit dibawa menggunakan motor ke arah Dangdeur.

Di sana berbaris masyarakat. Murid TK sampai SMK. Remaja sampai nenek kakek. Di depan mereka berbagai hal: baju, makanan, sepatu dsb.

Pekikan takbir terdengar sesekali. Juga yel yel. "Islam bersatu, tidak bisa dikalahkan!'

Kepala-kepala itu melongok, menunggu-nunggu kedatangan remaja santri Ciamis.

"Mereka hebat. Mereka luar biasa." Demikian komen-komen yang terdengar.

Saya menggabungkan diri dengan teman yang lain.

Hampir sejam, satu persatu mujahid remaja itu mendekat. Sebagian bertopi lebar. Wajah mereka penuh senyum. Sebagian mereka, tangannya sudah penuh dengan barang-barang.

Masyarakat harus dipaksa mundur karena semua berebut ke tengah jalan, membawakan berbagai hal.

"Dikumpulkan saja dalam truk, Ibu-Ibu," pinta koordinator. "Nanti akan dibagikan."

Ada banyak yang menyeka airmata.

Sekejab saja sandal-sandal gunung dan sepatu itu habis.

Di depan saya masih lewat remaja-remaja santri.

Wartawan Antara yang berdiri tak jauh dari saya menjelaskan jumlah santri yang dia saksikan berkisar 1500 orang.

Ada yang bersandal jepit. Kakinya nampak bekas darah mengering.

"Nomor kakimu berapa, Nak?"

Dia mendongak. "43."

Saya tersenyum. "Maaf ya, Bu Imun belum membeli nomor itu tadi. Bu Imun akan segera beli dan kirimkan ya. Insya Allah."

Dengan Isna, kami kembali ke Jatinangor, mencari toko sepatu yang lain. Lagi seluruh sandal gunung dan sepatu nyaman ukuran 42-44 stok toko dihabiskan. Plus berlusin-lusin kaos kaki.

Kembali ke Cipacing.

Santri-santri sudah berkumpul di RM Sehati. Saya mendapat info dari Faris ada Gubernur Jabar di dalam. Banyak bus berjejer di luar rumah makan.

Saya menyerahkan gembolan pada Faris.

Saya sendiri tak lama di sana karena harus menjadi pembicara pada seminar nasional di kampus.

Sempat bertelponan dengan Kang Teddy Setiadi. Beliau juga di lapangan.

Sepanjang jalan tadi, banyak ditemui wajah yang sering bersama dalam aktivitas kepalestinaan dan lainnya.

Ah, saat hati itu berdetak karena hal yang sama....tidak janjian pun Allah pertemukan.

Semoga demikian juga hendaknya nanti pertemuan di surga. Amiin.

-------------------------------
Other Story
-------------------------------


Penantian saya dan orang-orang yang berbaris di sepanjang Jl Raya Cileunyi, tidak sia-sia pun tidak surut walau hujan terus mengguyur.

Begitu rombongan pendemo dari Ciamis yang berjalan kaki muncul dari kejauhan, semua bersiap. Kami berdiri, berbaris panjang sekali di tepi jalan, menenteng kresek dan kardus berisi segala macam yang bisa kami berikan. Air minum dalam kemasan, hansaplast, jamu dalam kemasan sachet siap minum, masker untuk jaga-jaga jika nanti gas air mata disemburkan penguasa, sandal jepit, jas hujan dan pakaian ganti plus sekantung plastik roti, donat, permen, buah, cemilan dll dalam satu plastik berbentuk paketan, kami bagikan. Mereka, menerima dengan sangat senang hati.

Takbir bersahutan tiada henti. Hujan, banjir, tidak menyurutkan massa untuk berkumpul memanjang dari Ujung Jalan Raya Cileunyi sampai Bundaran Cibiru dan sepanjang jalan Soekarno-Hatta sampai Kantor Perhutani Soekarno - Hatta.

Yang membuat saya merinding, seorang santri kecil berusia delapan tahun, terlihat ikut berjalan bersama rombongan. TANPA ALAS KAKI, mengatupkan kedua telapak tangan dan menggigil kedinginan diguyur hujan.

Segera saya "tewak" dan tarik ke pinggir anak itu.
"Sandalnya mana ?" tanya saya.
"Putus Buu, jadi saya buang," katanya.
Seorang dari kami menyodorkan sepasang sandal jepit baru.
"Bawa baju ganti ?" tanya saya lagi.
Anak itu menggeleng.

Saya tarik makin ketepi, tepat di Teras Bank BJB ini. Saya minta dia melepas plastik kantung yang dipakainya untuk menahan hujan. Ternyata baju seragam santri yang dipakainya pun basah kuyup. Segera kami sodori sehelai kaos panjang dan trening panjang, lalu dia memakai jas hujan yang juga kami sodorkan.

"Kenapa ikut ?" tanya saya.
"Ngagentosan ( menggantikan ) pun Bapa ( ayah saya )," jawab anak lelaki itu.
"Bapa ade kamana ( Bapakmu kemana ) ?" tanya saya sambil menggenggam kan beberapa lembar uang.
"Atos ngatunkeun ( sudah tiada )," jawab seorang santri dewasa yang muncul di belakangnya.

Ada rasa nyeri yang menyayat perut di bawah iga kanan saya
Entah apa yang ada di benak para penghina, penyinyir dan penista yang kedua orangnya masih lengkap, berusia dewasa, punya biaya, uang banyak, gagah perkasa DAN dia MUSLIM tapi bisanya cuma menyinyiri, menista dan menghina...

Rombongan lewat, semua logistik paketan habis kami bagikan. Tinggal logistik dalam wadah kardus dan karung. Kami naikkan ke ambulance dan mobil-mobil bertanda rombongan.

Tetiba saya dibuat terkejut. Satu demi satu gadis-gadis berjilbab lebar itu bergantian memeluk saya dan saling berpelukan antar sesamanya dengan mata basah.
Ucapan syukur dan tangis kegembiraan mereka, juga terasa menyayat hati saya.
"Bu, ayo ikut !" teriak anak gadis berjilbab lebar dan mengendarai sepeda motor. Saya diajak ikut mengiringi laju rombongan itu bersama anak-anak lain, dengan motor mereka.

Bahagianya hari ini, melupakan derita nyeri di hari pertama datangnya "tamu bulanan" saya.....


Sumber: WA dan akun FB Dara Lana Tan
#CintaCIAMIS
#MALUHATI

Izza009 05.40
Jakarta – Kaum muslimin dari berbagai daerah terus berdatangan ke Masjid Istiqlal hari ini, Kamis (01/12). Posko pembagian konsumsi pun telah dibuka sejak siang oleh Moslem Care Community (MCC), yang mendapatkan bantuan infak berupa uang dan makanan dari berbagai daerah.
“Ini sumbangan kaum muslimin, baik berupa duit, makanan dan minuman. Bahkan ada kurma dari rekan-rekan Bangka-Belitung,” jelas Masudi, salah satu relawan MCC.

Penyaluran bantuan konsumsi oleh MCC ini akan terus dilakukan hingga acara aksi selesai. Posko mereka akan didirikan di beberapa titik.

“Penyaluran dimulai hari ini sampai besok, dengan titik posko di Istiqlal dan di Patung Kuda,” katanya.
Muslim Care Community, lanjut dia, akan membangun posko tersebut ketika jalur lalu lintas sudah sepi, tepatnya malam hari.

“Realisasinya nanti malam setelah keadaan lalu lintas lebih mendukung untuk penyaluran,” ujarnya.
Posko di area Masjid Istiqlal terlihat ramai didatangi kaum muslimin dari berbagai daerah. Dengan sabar, para relawan pun setia melayani mereka.

Izza009 04.51
Bandarlampung – Ketua Dewan Dakwah Provinsi Lampung yang juga menjadi panitia dalam mengkoordinir massa GNPF-MUI Lampung, Nazir Hasan mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah mengelola massa yang akan berangkat ke Jakarta dengan baik. Namun karena pengelola bus tiba-tiba mengundurkan diri, pihaknya menduga ada intervensi aparat terkait hal tersebut.

“Massa akan tetap diberangkatkan. Kalau sampai dibatalkan maka akan memancing emosi mereka menjadi anarkis. Kami juga sudah berkoordinasi dengan daerah lain, dan mereka mengalami hal yang sama,” ujar Nazir kepada Kiblat.net saat ditemui di Museum Lampung, Kamis (01/12).
Menurutnya, pengelola bus-bus tersebut mengundurkan diri dikarenakan takut atau ada teror  yang dilakukan oknum aparat. “Kemungkinan PO bus-bus tersebut diancam akan dilakukan pencabutan trayeknya, jadi mereka tidak mau mengambil resiko,” urainya.

Sementara itu, Kapolresta Bandar Lampung AKBP Murbani Budi Pitono membantah telah mengancam pengelola bus di Lampung yang sedianya akan mengangkut massa menuju Jakarta.
“Saya tidak tahu masalah larangan itu. Karena, itu trayek bukan tugas Kepolisan. Kami hanya menghimbau saja sejumlah massa untuk berdoa di Bandar Lampung saja, dan tidak membawa barang berbahaya. Jika mereka menggelar doa bersama, juga harus tertib. Mereka harus membuktikan bahwa warga Lampung ini taat pada hukum, dan menjaga kedamaian serta kerukunan,” ujarnya.


Diberdayakan oleh Blogger.